
Gambar: 8 Ciri Anak Berisiko Miopia Tinggi Faktor Risikonya
Melihat anak tumbuh aktif dan berprestasi di sekolah tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tua. Namun, pernahkah Anda memperhatikan kebiasaan kecil anak saat melihat sesuatu?
Mungkin belakangan ini anak Anda mulai sering menyipitkan mata saat melihat jam dinding, duduk semakin dekat ke layar televisi, atau mengeluh kesulitan membaca tulisan di papan tulis kelas. Reaksi pertama yang paling umum adalah bertanya-tanya: “Apakah anak saya mulai mengalami mata minus?”
Dalam istilah medis, kondisi mata minus dikenal sebagai miopia. Mengenali perilaku sehari-hari anak memang menjadi langkah awal yang sangat penting. Namun, mengamati tanda-tandanya saja belum cukup untuk menentukan apakah anak benar-benar mengalami miopia atau seberapa besar risikonya berkembang menjadi miopia tinggi.
Artikel ini hadir untuk membantu Anda memahami tanda awal mata minus pada anak, faktor-faktor yang meningkatkan risiko miopia tinggi, serta kapan waktu yang tepat untuk melakukan skrining atau pemeriksaan mata secara menyeluruh.
Apa Itu Miopia pada Anak?
Miopia (atau yang umum disebut mata minus) adalah gangguan refraksi mata di mana objek yang berada di jarak dekat dapat terlihat jelas, tetapi objek yang berada di jarak jauh tampak buram atau kabur. Kondisi ini terjadi karena bentuk bola mata yang sedikit lebih panjang dari normal (sumbu aksial mata memanjang) atau kornea yang terlalu melengkung, sehingga bayangan jatuh di depan retina, bukan tepat di atasnya.
Miopia sangat sering mulai berkembang pada masa kanak-kanak, terutama ketika memasuki usia sekolah. Seiring dengan pertumbuhan fisik anak, ukuran bola mata juga dapat mengalami pemanjangan, yang menyebabkan derajat miopia meningkat.
Supaya lebih mudah memahaminya, berikut adalah perbedaan mendasar dari istilah-istilah yang sering digunakan:
Mata Minus / Miopia: Istilah umum untuk kondisi refraksi di mana penglihatan jarak jauh buram.
Miopia Tinggi (High Myopia): Derajat miopia yang tergolong berat, secara medis umumnya didefinisikan ketika koreksi mata mencapai $-5.00\text{ D}$ atau $-6.00\text{ D}$ ke atas.
Miopia Progresif: Kondisi di mana derajat miopia anak terus bertambah secara signifikan dalam waktu relatif singkat selama masa pertumbuhan.
Perlu dipahami bahwa miopia bukan sekadar masalah estetika atau kebutuhan memakai kacamata. Namun, tidak semua anak yang mengalami miopia pasti akan berkembang menjadi miopia tinggi.
Ciri-Ciri Mata Minus pada Anak yang Perlu Diperhatikan

Sebagai langkah awal, orang tua perlu peka terhadap perubahan perilaku visual anak. Berikut adalah beberapa ciri-ciri mata minus pada anak yang paling sering dijumpai sehari-hari:
1. Sering Menyipitkan Mata Saat Melihat Jauh
Ketika anak menyipitkan mata, celah penglihatan menjadi lebih sempit. Mekanisme alami ini membantu memfokuskan cahaya yang masuk ke mata (pinhole effect) agar objek di kejauhan terlihat sedikit lebih jelas.
2. Sulit Melihat Tulisan di Papan Tulis
Di sekolah, anak yang mengalami mata minus mungkin mulai sering meniru catatan teman sebangkunya karena tidak dapat melihat papan tulis dengan jelas dari tempat duduknya.
3. Sering Mendekatkan Diri ke Layar atau Objek
Anak sering kali duduk sangat dekat dengan televisi, memegang buku atau gadget terlalu dekat ke wajah, atau menunduk sangat rendah saat menggambar dan menulis.
4. Mengeluhkan Penglihatan Jauh yang Buram
Anak mungkin mengekspresikan ketidaknyamanannya dengan memberi tahu Anda bahwa ia tidak bisa melihat wajah orang dari kejauhan, sulit membaca rambu lalu lintas, atau melihat pemandangan yang samar.
5. Sering Mengucek Mata
Mengucek mata adalah reaksi umum saat mata terasa lelah, tegang, atau gatal. Akan tetapi, ini adalah tanda yang tidak spesifik dan bisa disebabkan oleh faktor lain seperti alergi atau mata kering. Jadi, bukan hanya indikator miopia.
6. Sering Mengalami Sakit Kepala atau Ketidaknyamanan Visual
Akomodasi mata yang bekerja terlalu keras untuk memfokuskan bayangan dapat menyebabkan kelelahan otot mata, yang kadang memicu pusing atau sakit kepala ringan di sekitar dahi.
7. Mengalami Kesulitan Mengikuti Aktivitas di Sekolah
Penurunan ketajaman visual yang tidak disadari dapat memengaruhi fokus belajar, konsentrasi, serta partisipasi anak dalam olahraga atau aktivitas luar ruangan.
8. Kekuatan Kacamata Bertambah
Jika anak Anda sudah mengenakan kacamata, tetapi dalam rentang beberapa bulan ia kembali mengeluh buram, ini menandakan adanya progresi miopia yang perlu dipantau ulang oleh tenaga profesional.
Penting untuk diketahui bahwa tanda dan gejala di atas bukanlah bentuk diagnosis.
Seorang anak bisa menunjukkan kebiasaan duduk dekat TV hanya karena fokus pada tayangan favoritnya, bukan selalu karena miopia. Sebaliknya, beberapa anak dengan miopia ringan bisa jadi tidak menunjukkan keluhan sama sekali. Diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan melalui pemeriksaan refraksi oleh tenaga profesional kesehatan mata.
Apa Penyebab Miopia pada Anak?
Miopia adalah kondisi yang bersifat multifaktorial. Artinya, tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal saja, melainkan gabungan dari beberapa elemen:
Faktor Genetik (Riwayat Keluarga): Anak yang memiliki orang tua dengan miopia memiliki kecenderungan biologis lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa.
Pertumbuhan Anatomi Mata: Perkembangan alami bola mata selama masa kanak-kanak hingga remaja dapat memicu pemanjangan sumbu aksial mata.
Aktivitas Melihat Dekat Berdurasi Panjang: Membaca, menggambar, atau menggunakan perangkat digital tanpa jeda istirahat yang cukup dapat memberi beban kerja ekstra pada sistem akomodasi mata.
Kurangnya Aktivitas di Luar Ruangan: Paparan cahaya alami (terang matahari) terbukti secara ilmiah membantu merangsang pelepasan dopamin di retina, yang berperan dalam menghambat pemanjangan bola mata yang berlebihan.
Menyalahkan gadget sebagai satu-satunya penyebab mata minus pada anak adalah anggapan yang kurang tepat. Gadget adalah bagian dari aktivitas jarak dekat (near-work), namun faktor lingkungan, pencahayaan, dan durasi aktivitas secara keseluruhan beroperasi secara bersamaan.
Faktor yang Membuat Anak Lebih Berisiko Mengalami Miopia Tinggi
Bagi orang tua, pertanyaannya sering kali berkembang: “Bagaimana saya tahu apakah mata minus anak saya berisiko menjadi miopia tinggi?”
Berdasarkan publikasi dari institusi kesehatan mata global seperti International Myopia Institute (IMI) dan American Academy of Ophthalmology (AAO), terdapat beberapa faktor risiko miopia tinggi pada anak yang perlu diwaspadai:
Usia Onset yang Sangat Muda (Early Onset): Anak yang sudah mengalami miopia pada usia sangat dini (misalnya di usia 6–8 tahun) memiliki masa pertumbuhan bola mata yang masih sangat panjang. Semakin dini miopia muncul, semakin panjang jendela waktu bagi miopia untuk bertambah hingga mencapai derajat miopia tinggi.
Riwayat Miopia Tinggi pada Kedua Orang Tua: Jika kedua orang tua memiliki miopia (terutama miopia tinggi), risiko anak mengalami progresi miopia yang cepat meningkat secara signifikan.
Laju Progresi yang Cepat: Penambahan minus yang signifikan (misalnya bertambah 0.50 D hingga 1.00 D atau lebih dalam kurun waktu satu tahun) mengindikasikan perkembangan miopia yang tergolong pesat.
Gaya Hidup Rendah Aktivitas Luar Ruangan: Anak yang menghabiskan hampir seluruh waktunya di dalam ruangan dengan durasi aktivitas jarak dekat yang sangat intensif memiliki risiko progresi yang lebih tinggi.
Apakah Semua Anak dengan Mata Minus Akan Mengalami Miopia Tinggi?
TIDAK semua anak dengan mata minus akan mengalami miopia tinggi.
Ini merupakan poin krusial yang perlu dipahami agar orang tua tidak merasa cemas berlebihan (unnecessary fear), namun juga tidak mengabaikan kondisi penglihatan anak (false reassurance).

Setiap anak memiliki profil risiko yang unik. Sebagian besar anak dengan miopia hanya mengalami kenaikan minus yang moderat dan akan stabil saat memasuki usia dewasa muda (sekitar usia 18–21 tahun). Namun, karena kita tidak bisa memprediksi perjalanan progresi mata anak hanya dari penampakan luar, pemantauan berkala menjadi kuncinya.
Mengapa Deteksi dan Pemantauan Miopia Sejak Dini Penting?
Miopia pada anak bersifat dinamis selama masa pertumbuhan. Mengidentifikasi kondisi mata sejak dini memberikan ruang bagi orang tua dan dokter/optometris untuk mengambil tindakan pencegahan laju progresi.
Framing utama dalam penanganan miopia saat ini bukan sekadar memberikan kacamata agar anak bisa melihat jelas, melainkan manajemen miopia (Myopia Management).
Deteksi dini memungkinkan:
Mengidentifikasi apakah anak berada dalam kelompok risiko tinggi.
Memantau panjang sumbu aksial bola mata secara berkala.
Menerapkan strategi intervensi atau manajemen miopia yang sesuai jika diperlukan.
Untuk mendapatkan evaluasi yang komprehensif mengenai profil risiko anak, Anda dapat memanfaatkan layanan skrining miopia anak dan pemeriksaan risiko miopia (ini bisa link ke layanan Optik Kasoem) yang dirancang khusus untuk memantau tumbuh kembang penglihatan anak secara akurat.
Apa yang Dapat Dilakukan Jika Anak Mengalami Miopia?
Jika anak Anda sudah terdiagnosis mengalami miopia, terdapat beberapa langkah praktis berbasis bukti (evidence-based) yang dapat diterapkan sehari-hari:
Perbanyak Aktivitas Luar Ruangan: Usahakan anak menghabiskan waktu setidaknya 2 jam sehari bermain atau beraktivitas di luar ruangan di bawah cahaya alami.
Terapkan Aturan 20-20-20: Setiap 20 menit melakukan aktivitas dekat (seperti membaca atau menatap layar), minta anak melihat benda berjarak jauh (sekitar 20 kaki atau 6 meter) selama 20 detik untuk mengistirahatkan otot mata.
Atur Jarak Baca dan Pencahayaan: Pastikan jarak antara buku/layar dengan mata anak tidak kurang dari 30 cm, dan ruangan memiliki pencahayaan yang cukup.
Rutin Menjalani Pemeriksaan Mata: Lakukan kontrol berkala setiap 6 bulan sekali atau sesuai anjuran tenaga profesional untuk memantau perkembangan ukuran minus.
Ikuti Rekomendasi Manajemen Miopia: Berdiskusilah dengan optometris atau dokter mata mengenai opsi koreksi khusus (seperti lensa desain manajemen miopia) jika anak terindikasi mengalami progresi cepat.
Ingat, hindari memercayai klaim instan seperti "cara menyembuhkan mata minus 100%" atau "terapi melatih otot mata untuk membebas-minuskan". Miopia yang disebabkan pemanjangan bola mata secara struktural tidak dapat disembuhkan atau dihilangkan secara ajaib, namun laju progresinya dapat dikontrol dan dikelola.
Kapan Anak Perlu Menjalani Skrining atau Pemeriksaan Mata?
Secara umum, anak perlu menjalani pemeriksaan mata anak apabila:
Mulai mengeluhkan penglihatan kabur atau menunjukkan kebiasaan menyipitkan mata.
Nilai atau konsentrasi di sekolah menurun akibat kesulitan melihat papan tulis.
Memiliki orang tua dengan riwayat miopia tinggi.
Sudah memakai kacamata, namun belum melakukan kontrol ulang lebih dari 6–12 bulan.
Skrining Penglihatan vs. Pemeriksaan Mata Menyeluruh
Sangat penting bagi orang tua untuk membedakan dua istilah ini:
Parameter | Skrining Penglihatan (Vision Screening) | Pemeriksaan Mata Menyeluruh (Comprehensive Eye Exam) |
Tujuan | Merekrut/mengidentifikasi anak yang berpotensi memiliki masalah penglihatan. | Mendiagnosis secara pasti kondisi refraksi dan kesehatan struktur mata internal. |
Pelaksana | Petugas sekolah, perawat, atau pemeriksaan massal sederhana. | Dokter Spesialis Mata (Ophthalmologist) atau Optometris terverifikasi. |
Hasil | Status "Lolos" (Pass) atau "Rujukan" (Refer). | Resep kacamata yang tepat, analisis risiko, dan rencana tindakan medis/optometri. |
Kesimpulan
Menghadapi risiko kesehatan penglihatan anak memerlukan pendekatan yang bijak dan teredukasi. Tiga pesan utama yang perlu diingat oleh setiap orang tua meliputi:
Peka Terhadap Tanda Awal: Kebiasaan seperti menyipitkan mata atau mendekatkan diri ke layar adalah sinyal awal bahwa penglihatan anak perlu dievaluasi, bukan bukti diagnosis langsung.
Pahami Profil Risiko: Tidak semua anak minus akan mengalami miopia tinggi, namun anak dengan onset usia muda dan riwayat keluarga perlu mendapatkan perhatian ekstra.
Lakukan Pemantauan Rutin: Pemeriksaan mata anak dan skrining miopia anak (ini bisa link ke layanan Optik Kasoem) berkala adalah kunci utama untuk mendeteksi risiko sejak dini dan menentukan langkah penanganan yang tepat bersama tenaga profesional.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apakah mata minus pada anak bisa sembuh?
Miopia yang disebabkan oleh ukuran bola mata yang memanjang tidak dapat "dinetralkan" atau disembuhkan kembali ke nol secara alami. Penggunaan kacamata berfungsi untuk mengoreksi penglihatan agar anak dapat melihat dengan jelas, sementara pendekatan myopia management bertujuan untuk memperlambat penambahan minusnya.
2. Umur berapa mata minus biasanya mulai muncul?
Miopia paling sering mulai terdeteksi pada usia sekolah dasar, yaitu antara usia 6 hingga 12 tahun, di mana anak mulai mengalami banyak aktivitas visual jarak dekat dan berada dalam masa pertumbuhan fisik yang pesat.
3. Apakah sering main gadget menyebabkan mata minus?
Gadget bukanlah penyebab tunggal. Penggunaan gadget memicu aktivitas melihat dekat dalam durasi lama tanpa jeda. Kombinasi antara aktivitas melihat dekat berlebihan, kurangnya waktu di luar ruangan, dan faktor genetik lah yang secara kolektif meningkatkan risiko terjadinya miopia.
4. Apa bedanya miopia dan miopia tinggi?
Miopia umum merujuk pada gangguan refraksi jarak jauh secara keseluruhan. Miopia tinggi merujuk pada tingkat keparahan minus di atas $-5.00\text{ D}$ atau $-6.00\text{ D}$, yang memerlukan perhatian khusus karena berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan struktur mata di masa dewasa.
5. Kapan anak pertama kali perlu pemeriksaan mata?
Anak disarankan menjalani pemeriksaan penglihatan pertama kali pada masa bayi (untuk mengecek refleks dan fungsi dasar mata), sebelum memasuki usia prasekolah (sekitar usia 3–5 tahun), serta secara rutin setiap tahun setelah memasuki usia sekolah, terutama jika ada indikasi keluhan atau faktor risiko keluarga.
Sources:
Flitcroft, D. I., et al. (2019). "IMI – Defining and Classifying Myopia: A Proposed Set of Standards for Clinical and Epidemiologic Studies." Investigative Ophthalmology & Visual Science (IOVS), 60(3), M20–M30. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30817826/
World Health Organization (WHO). (2015). The Impact of Myopia and High Myopia: Report of the Joint World Health Organization–Brien Holden Vision Institute Global Scientific Meeting on Myopia. WHO Press.
Chua, S. Y., et al. (2016). "Age of onset of myopia predicts total amount of high myopia in adulthood." Ophthalmic and Physiological Optics, 36(3), 290–297.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27350183/
Lanca C, Foo LL, Ang M, Tan CS, Kathrani B, Htoon HM, Tan D, Hoang QV, Brennan N, Saw SM, Sabanayagam C. “Rapid Myopic Progression in Childhood Is Associated With Teenage High Myopia.” Invest Ophthalmol Vis Sci. 2021 Apr 1;62(4):17. doi: 10.1167/iovs.62.4.17. PMID: 33851974; PMCID: PMC8054625.