
Gambar: Pemeriksaan Mata untuk Anak yang Belum Bisa Bicara, Bagaimana Caranya?
Bagi para orang tua, memperhatikan setiap tahapan tumbuh kembang buah hati adalah momen yang penuh kebahagiaan sekaligus kehati-hatian. Namun, ketika muncul keraguan mengenai kondisi penglihatannya, misalnya bayi tampak kurang responsif terhadap mainan, atau balita sering memiringkan kepala saat menonton, satu pertanyaan besar kerap membuat orang tua bingung:
“Anak saya belum bisa bicara dan belum bisa membaca huruf. Bagaimana dokter atau optometris bisa tahu apakah matanya bermasalah atau tidak?”
Kekhawatiran ini sangat wajar. Selama ini, pemeriksaan mata identik dengan membaca susunan huruf dari jarak jauh sambil menjawab pertanyaan pemeriksa. Beruntungnya, dunia kesehatan mata anak (pediatric eye care) telah berkembang pesat.
Anak yang belum bisa bicara tetap dapat menjalani pemeriksaan mata secara akurat. Evaluasi penglihatan anak tidak bergantung pada kemampuan verbalnya, melainkan memanfaatkan teknik observasi dan instrumen medis khusus yang dirancang sesuai usia perkembangan anak.
Supaya lebih jelas, simak penjelasan berikut!
Apakah Anak yang Belum Bisa Bicara Bisa Diperiksa Matanya?
Orang tua tidak perlu menunggu hingga anak pandai berbicara atau bisa membaca huruf di usia sekolah untuk memeriksakan penglihatannya. Sistem visual manusia berkembang sangat pesat sejak lahir hingga usia sekitar 7–8 tahun. Pada rentang usia emas ini, deteksi dini gangguan penglihatan justru sangat krusial.
Jadi, anak tetap bisa melakukan pemeriksaan mata meskipun belum dapat berbicara.
Pemeriksaan penglihatan pada anak usia dini, mulai dari bayi baru lahir (newborn), bayi (infant), hingga balita (toddler), menggunakan pendekatan medis khusus yang disebut metode objektif. Berbeda dengan tes subjektif pada orang dewasa, pemeriksaan mata anak belum bisa bicara berfokus pada:
Bagaimana struktur mata anak terbentuk;
Bagaimana refleks media optik merespons cahaya;
Bagaimana otak dan otot mata anak merespons stimulus visual di sekitarnya.
Artinya, pemeriksaan dapat dilakukan dengan aman, nyaman, dan presisi tanpa mengharuskan si kecil mengutarakan apa yang ia lihat.
Bagaimana Cara Memeriksa Mata Anak yang Belum Bisa Bicara?

Source: magnific.com
Proses pemeriksaan penglihatan anak preverbal (belum bisa bicara) dilakukan melalui kombinasi observasi perilaku, tes refleks, dan pemanfaatan teknologi optik modern. Berikut adalah beberapa metode utama yang umum digunakan:
1. Mengamati Respons dan Perilaku Visual Anak
Pemeriksa akan menilai fungsi dasar penglihatan anak melalui interaksi sederhana yang menyenangkan bagi si kecil:
Pemeriksaan Memfiksasi dan Mengikuti Objek (Fix and Follow): Pemeriksa menggerakkan mainan berwarna cerah atau sumber cahaya lembut di depan wajah anak untuk melihat apakah matanya dapat memfokuskan pandangan dan mengikutinya dengan lancar.
Pemeriksaan Refleks Cahaya Pupil: Menilai bagaimana pupil mata anak mengecil dan membesar saat terpapar cahaya ringan, guna memastikan saraf penglihatan merespons dengan baik.
Uji Penutupan Mata (Occlusion Test): Salah satu mata anak ditutup secara bergantian menggunakan telapak tangan atau penutup khusus. Jika anak mendadak rewel, menangis, atau berusaha menepis tangan saat mata tertentu ditutup, ini dapat menjadi indikasi bahwa mata yang tidak ditutup mengalami penglihatan buram (ambliopia atau mata malas).
Tes Red Reflex (Refleks Merah): Menggunakan alat ophthalmoscope untuk melihat pantulan cahaya merah dari belakang mata (retina). Tes ini sangat penting pada bayi untuk mendeteksi dini adanya katarak kongenital atau kelainan struktur internal mata.
2. Pemeriksaan dengan Alat Otomatis (Screening Tools)
Teknologi optik saat ini memungkinkan evaluasi refraksi dilakukan hanya dalam hitungan detik tanpa menyentuh bola mata anak:
Photoscreening: Alat berbentuk seperti kamera khusus yang memancarkan kilatan cahaya dan mengambil gambar pantulan dari mata anak. Dalam beberapa detik, perangkat ini dapat mendeteksi potensi kelainan refraksi (minus, plus, atau silinder berlebih) serta kelainan kesejajaran mata.
Autorefractive Screening (Autorefractor Portabel): Alat genggam berdesain menarik (sering kali dilengkapi lampu berkedip dan suara unik untuk menarik perhatian balita) yang secara otomatis mengukur daya bias cahaya mata saat anak menatap alat tersebut.
3. Pemeriksaan Refraksi Objektif
Untuk mengukur ukuran minus, plus, atau silinder secara lebih terukur, tenaga profesional kesehatan mata akan melakukan teknik refraksi objektif.
Salah satu metode emas (gold standard) untuk tes mata bayi dan balita adalah Retinoskopi. Pemeriksa mengarahkan garis cahaya dari alat retinoskop ke mata anak sambil memegang beberapa lensa koreksi di depan matanya. Dengan mengamati pergerakan pantulan cahaya di dalam pupil, pemeriksa dapat menentukan besarnya kelainan refraksi secara akurat tanpa memerlukan umpan balik lisan dari si kecil.
Apakah Anak Harus Bisa Membaca untuk Diperiksa Matanya?
Sebagian orang tua menunda membawa balitanya ke optik atau klinik mata karena mengira tes mata selalu menggunakan papan huruf Latin (Snellen Chart).
Padahal, untuk anak-anak prasekolah yang sudah bisa berkomunikasi tetapi belum mengenal huruf, pemeriksaan ketajaman visual (visual acuity) menggunakan simbol-simbol khusus yang mudah dikenali anak:
Chart Simbol LEA / HOTV: Menggunakan gambar bentuk sederhana seperti rumah, apel, lingkaran, dan persegi. Anak cukup menunjuk gambar yang sama di kartu pegangannya (matching game).
Tumbling E / Landolt C Chart: Anak cukup menunjukkan arah kaki huruf "E" (apakah menghadap ke atas, bawah, kiri, atau kanan) menggunakan jarinya.
Sedangkan bagi bayi atau anak yang benar-benar belum bisa diajak berkomunikasi, teknik Preferential Looking (menggunakan kartu bergaris khusus seperti Teller Acuity Cards) dapat mengukur ketajaman mata berdasarkan kecenderungan alami bayi yang lebih suka menatap pola garis dibanding bidang polos.
Apa Saja yang Bisa Diketahui dari Pemeriksaan Mata Anak?
Pemeriksaan penglihatan pada usia dini bukan sekadar mencari tahu apakah anak butuh kacamata atau tidak, melainkan menilai kesehatan visual secara menyeluruh.
Melalui pemeriksaan mata balita dan bayi, beberapa kondisi berikut dapat teridentifikasi sejak awal:
Kelainan Refraksi: Mendeteksi adanya miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), atau astigmatisme (mata silinder).
Strabismus (Mata Juling): Kondisi di mana posisi kedua mata tidak sejajar atau tidak bergerak searah.
Amblyopia (Mata Malas): Penurunan ketajaman penglihatan pada satu mata akibat otak lebih memprioritaskan sinyal dari mata yang lebih dominan.
Gangguan Media Refraksi & Struktur: Mendeteksi secara dini keruhan lensa (katarak anak) atau kelainan bawaan pada kornea dan retina.
Skrining Penglihatan vs. Pemeriksaan Mata Komprehensif
Sangat penting bagi orang tua untuk membedakan dua bentuk evaluasi ini:
Parameter Evaluasi | Skrining Penglihatan (Vision Screening) | Pemeriksaan Mata Komprehensif (Comprehensive Eye Exam) |
Tujuan Utama | Mengidentifikasi anak yang berisiko memiliki masalah visual (alat tapis). | Mendiagnosis secara pasti jenis kelainan dan merencanakan terapi. |
Pelaksana | Dokter anak, perawat sekolah, atau penapis kesehatan. | Dokter Spesialis Mata Anak (Pediatric Ophthalmologist) / Optometris. |
Hasil Akhir | Keputusan: "Lolos" atau "Perlu Rujukan". | Resep koreksi optik presisi, rujukan terapi, atau tindakan medis. |
Jika hasil skrining awal menunjukkan indikasi yang mencurigakan, anak Anda perlu dirujuk untuk menjalani pemeriksaan yang lebih mendalam.
Tanda Anak yang Belum Bisa Bicara Perlu Diperiksa Matanya
Karena tidak bisa mengeluh "Ma, mataku buram", anak-anak menyampaikan rasa ketidaknyamanannya melalui gerakan fisik dan kebiasaan sehari-hari.
Waspadai cara mengetahui mata anak bermasalah melalui tanda-tanda perilaku berikut:
Tidak Memfiksasi Objek. Bayi usia di atas 3 bulan yang tidak menatap wajah orang tua atau tidak mengikuti pergerakan mainan di dekatnya.
Mata Tampak Tidak Sejajar. Salah satu bola mata anak sering bergulir ke arah dalam (mendekati hidung) atau ke arah luar.
Sering Menyipitkan atau Memicingkan Mata. Anak memicingkan mata saat mencoba fokus melihat benda dari jarak tertentu.
Mendekatkan Objek Sangat Dekat. Memegang mainan, buku gambar, atau mendekatkan wajah sangat dekat ke layar TV.
Sering Menabrak atau Tampak Canggung. Balita yang baru belajar berjalan sering menabrak furnitur, salah mengira jarak anak tangga, atau kesulitan menjangkau benda di depannya.
Reaksi Berlebihan Saat Satu Mata Ditutup. Menangis atau marah hanya ketika salah satu matanya ditutup.
Bintik Putih pada Pupil: Pupil mata anak tampak berwarna keruh atau putih (bukan hitam jernih) saat terkena pantulan cahaya atau kilat foto (leukocoria).
Apabila si kecil menunjukkan kebiasaan memicingkan mata atau sering menunduk dekat saat melihat sesuatu, simak panduan lengkap kami mengenai ciri-ciri mata minus pada anak (ini bisa ditautkan ke artikel yang topiknya terkait) untuk pengamatan lebih detail.
Kapan Anak Sebaiknya Diperiksa Matanya?

Source: magnific.com
Jadwal pemeriksaan penglihatan anak terbagi menjadi dua kondisi utama:
1. Pemeriksaan Rutin Berdasarkan Usia (Tanpa Gejala)
Bayi Baru Lahir: Evaluasi dasar (refleks pupil dan refleks merah) biasanya dilakukan oleh dokter anak saat kelahiran.
Usia 6–12 Bulan: Disarankan menjalani skrining penglihatan pertama untuk menilai koordinasi mata dan refraksi dasar.
Usia 3–5 Tahun (Prasekolah): Pemeriksaan ketajaman visual dan alignment mata sebelum memasuki dunia sekolah.
2. Pemeriksaan Berdasarkan Indikasi (Segera)
Jangan menunda pemeriksaan mata anak usia dini jika:
Anak menunjukkan salah satu tanda perilaku visual yang tidak normal di atas;
Anak memiliki riwayat lahir prematur atau berat badan lahir rendah;
Terdapat riwayat keluarga dengan miopia tinggi, juling, atau mata malas;
Anak sering menghabiskan waktu di depan layar digital.
Baca juga: Apakah anak sering main gadget apakah berisiko miopia? (ini juga bisa ditautkan ke artikel terkait)
Mengapa Pemeriksaan Mata Sejak Dini Penting?
Penglihatan adalah modal utama bagi anak untuk belajar, bereksplorasi, dan membangun keterampilan motoriknya. Lebih dari 80% informasi belajar yang diserap otak anak di usia dini diperoleh melalui indra penglihatan.
Menemukan gangguan mata sejak usia balita memberikan banyak keuntungan medis:
Mencegah Ambliopia Permanen: Mata malas paling efektif diterapi sebelum masa perkembangan visual anak selesai (di bawah usia 7–8 tahun). Jika terlambat dideteksi, penurunan penglihatan bisa bersifat permanen.
Mendukung Perkembangan Motorik & Kognitif: Penglihatan yang jelas membantu anak belajar berjalan, menggambar, dan berinteraksi secara percaya diri.
Memantau Progresi Refraksi: Jika si kecil terdeteksi memiliki miopia di usia sangat muda, orang tua bersama tenaga profesional dapat merencanakan langkah cara mencegah mata minus anak bertambah (intenal link ke artikel terkait) sedini mungkin.
Apa yang Perlu Disiapkan Sebelum Membawa Anak Pemeriksaan Mata?
Agar proses tes mata anak berjalan lancar dan menyenangkan bagi si kecil, beberapa persiapan praktis ini dapat Anda lakukan:
Pilih Waktu yang Tepat. Atur jadwal kunjungan saat anak dalam kondisi segar, bukan pada jam tidur siang atau saat anak lapar.
Catat Perilaku Anak. Tuliskan kebiasaan atau gejala visual yang pernah Anda amati di rumah untuk diinformasikan kepada pemeriksa.
Siapkan Riwayat Kesehatan Keluarga. Ketahui apakah ada anggota keluarga inti yang menggunakan kacamata minus tebal sejak kecil atau memiliki riwayat mata juling.
Bawa Barang Kesayangan. Bawa mainan favorit atau empeng untuk membantu menenangkan anak jika ia merasa asing dengan suasana ruang periksa.
Berikan Conditioning Positif. Ceritakan pada balita Anda dengan bahasa yang menyenangkan bahwa ia akan diajak "bermain tebak gambar" bersama dokter/optometris.
FAQ (Frequently Asked Questions)
1. Apakah anak yang belum bisa bicara bisa diperiksa matanya?
Bisa. Pemeriksaan penglihatan pada anak preverbal menggunakan metode objektif (seperti retinoskopi, photoscreening, dan tes refleks visual) yang tidak membutuhkan jawaban verbal dari anak.
2. Bagaimana cara mengetahui bayi bisa melihat dengan baik?
Dokter atau optometris akan menilai apakah bayi dapat memfiksasi pandangan dan mengikuti objek berwarna terang, menguji refleks cahaya pupil, serta memeriksa red reflex pada mata bayi.
3. Apakah anak harus bisa membaca untuk melakukan pemeriksaan mata?
Tidak. Untuk anak usia balita, tes ketajaman visual dapat menggunakan kartu simbol gambar (seperti LEA Symbols). Bagi bayi, pengukuran dilakukan sepenuhnya secara objektif dengan alat khusus.
4. Apakah pemeriksaan mata bayi terasa sakit?
Tidak sama sekali. Prosedur pemeriksaan dasar bersifat non-invasif, tanpa kontak fisik langsung yang menyakitkan, dan dirancang agar terasa seperti permainan visual yang aman bagi bayi.
5. Bagaimana mengetahui anak mengalami mata minus jika belum bisa bicara?
Tenaga profesional menggunakan alat refraksi objektif seperti retinoskop atau autorefractor portabel untuk mengukur pembiasan cahaya di retina anak, sehingga ukuran minus, plus, atau silinder dapat diketahui secara pasti.
6. Apakah pemeriksaan dengan mesin aman untuk anak?
Sangat aman. Alat seperti autorefractor portabel atau photoscreener hanya menggunakan paparan cahaya lampu infra merah ringan atau kilatan foto standar yang tidak membahayakan mata anak.
7. Umur berapa anak sebaiknya mulai diperiksa matanya?
Skrining dasar dilakukan sejak lahir. Pemeriksaan penglihatan berkala sangat dianjurkan mulai usia 6–12 bulan, usia 3 tahun, dan rutin setiap tahun menjelang usia sekolah.
8. Apa bedanya skrining penglihatan dan pemeriksaan mata lengkap?
Skrining penglihatan bertujuan menapis atau mendeteksi ada/tidaknya risiko gangguan visual. Sedangkan pemeriksaan mata lengkap memberikan diagnosis pasti, evaluasi kesehatan struktur mata internal, dan penetapan resep kacamata atau tindakan terapi.
Pantau Tumbuh Kembang Penglihatan Buah Hati Anda Bersama Optik Kasoem
Jangan biarkan keterbatasan komunikasi menunda perlindungan terhadap penglihatan buah hati Anda. Memastikan mata anak berkembang dengan sehat tidak perlu menunggu sampai ia pandai membaca atau berbicara.
Percayakan kesehatan visual keluarga Anda pada layanan pemeriksaan mata anak di Optik Kasoem. Dilengkapi dengan instrumen pemeriksaan refraksi yang modern dan non-invasif, serta didampingi oleh tim optometris berpengalaman yang sabar dalam menangani anak-anak, kami siap membantu mengevaluasi penglihatan si kecil dengan cara yang aman dan menyenangkan.
Resource:
Donahue SP, Nixon CN; Section on Opthamology, American Academy of Pediatrics; Committee on Practice and Ambulatory Medicine, American Academy of Pediatrics; American Academy of Ophthalmology; American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus; American Association of Certified Orthoptists. Visual System Assessment in Infants, Children, and Young Adults by Pediatricians. Pediatrics. 2016 Jan;137(1):28-30. doi: 10.1542/peds.2015-3596. Epub 2015 Dec 7. PMID: 29756730.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/29756730/
Miller JM, Lessin HR; American Academy of Pediatrics Section on Ophthalmology; Committee on Practice and Ambulatory Medicine; American Academy of Ophthalmology; American Association for Pediatric Ophthalmology and Strabismus; American Association of Certified Orthoptists. Instrument-based pediatric vision screening policy statement. Pediatrics. 2012 Nov;130(5):983-6. doi: 10.1542/peds.2012-2548. Epub 2012 Oct 29. PMID: 23109679.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23109679/
Oral Y, Gunaydin N, Ozgur O, Arsan AK, Oskan S. A comparison of different autorefractors with retinoscopy in children. J Pediatr Ophthalmol Strabismus. 2012 Nov-Dec;49(6):370-7. doi: 10.3928/01913913-20120821-04. Epub 2012 Aug 28. PMID: 22938517.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22938517/
EyeWiki
https://eyewiki.org/Visual_Acuity_Assessment_in_Children
Kementrian Kesehatan: Mata Malas
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/3212/mata-malas-pada-anak